C A I R A N I N F U S
I.
PENDAHULUAN
Infus
cairan adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh, melalui sebuah jarum,
ke dalam tubuh untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari
tubuh. Fungsi NaCl bagi tubuh yang sehat sebenarnya tidak ada. NaCl 0,9%,
misalnya, dulu dikenal sebagai cairan fisiologis karena dianggap memiliki
kandungan cairan yang menyerupai kandungan cairan tubuh. Biasanya cairan ini
digunakan pada penderita rawat inap yang memerlukan jalur infus, yang tanpa
kelainan pada kandungan cairan tubuh (dalam artian tidak terdapat perubahan
nilai elektrolit dalam tubuh). Namun, dalam keadaan tertentu (misalnya kadar
natrium dalam darah menurun), NaCl dapat digunakan (secara infus) untuk
meningkatkan kadar natrium, tentunya dengan menyesuaikan persen NaCl yang
dibutuhkan. Dengan kata lain NaCl itu juga merupakan molekul yang orang bilang
garem dapur terdiri dari Na+ dan Cl- merupakan ion elektrik... berperan dalam
natrum kalium ATP-ase yang intinya semua kerja tubuh yang memerlukan listrik,
seperti saraf, otot, chenel2 reseptor, dll
II. JENIS
- JENIS CAIRAN INFUS
1. Cairan hipotonik.
Adalah cairan infuse yang osmolaritasnya lebih rendah
dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan
serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka
cairan “ditarik” dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya
(prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi),
sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel
“mengalami” dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi
diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan
ketoasidosis diabetik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan
tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps
kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) pada beberapa
orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.
2. Cairan Isotonik.
Adalah cairan infuse yang
osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari
komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Bermanfaat pada
pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan
darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan),
khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya
adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis
(NaCl 0,9%).
3. Cairan hipertonik.
Adalah cairan
infus yang osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga “menarik”
cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah,
meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak). Penggunaannya
kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45%
hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah
(darah), dan albumin.
Dari
Sisi Cairan
a. Kandungan elektrolit
cairan
Elektrolit yang umum
dikandung dalam larutan infus adalah Na+, K+, Cl, Ca2+,
laktat atau asetat. Jadi, dalam pemberian infus, yang diperhitungkan bukan
hanya air melainkan juga kandungan elektrolit ini apakah kurang, cukup, pas
atau terlalu banyak. Dalam
hal ini pula atau dalam kandungan cairan ini terkandung osmolaritas cairan dimana
yang dimaksud dengan osmolaritas adalah jumlah total mmol elektrolit dalam kandungan infus. Untuk pemberian infus ke dalam vena tepi maksimal osmolaritas yang dianjurkan adalah kurang dari 900mOsmol/L untuk mencegah risiko flebitis (peradangan vena). Jika osmolaritas cairan melebihi 900 mOsmol/L maka infus harus diberikan melalui vena sentral.
yang dimaksud dengan osmolaritas adalah jumlah total mmol elektrolit dalam kandungan infus. Untuk pemberian infus ke dalam vena tepi maksimal osmolaritas yang dianjurkan adalah kurang dari 900mOsmol/L untuk mencegah risiko flebitis (peradangan vena). Jika osmolaritas cairan melebihi 900 mOsmol/L maka infus harus diberikan melalui vena sentral.
Adapun kandungan lain dalam
cairan infuse yaitu
seperti disebutkan sebelumnya, selain elektrolit
beberapa produk infus juga mengandung zat-zat gizi yang mudah diserap ke dalam
sel, antara lain: glukosa, maltosa, fruktosa, silitol, sorbitol, asam amino,
trigliserida. Pasien yang dirawat lebih lama juga membutuhkan unsur-unsur lain
seperti Mg2+, Zn2+ dan trace element lainnya.
Dalam proses sterilitas
cairan infuse itu sendiri dapat di lihat dari parameter kualitas untuk sediaan
cairan infus yang harus dipenuhi adalah steril, bebas partikel dan bebas
pirogen disamping pemenuhan persyaratan yang lain. Pada sterilisasi cairan
intravena yang menggunakan metoda sterilisasi uap panas, ada dua pendekatan
yang banyak digunakan, yaitu overkill dan non-overkill (bioburden-based).
a. Overkill adalah Pendekatan yang dilakukan
untuk membunuh semua mikroba, dengan prosedur sterilisasi akhir pada suhu
tinggi yaitu 121oC selama 15 menit. . Dengan
cara ini, hanya cairan infus yang mengandung elektrolit tidak akan mengalami
perubahan. Namun cara ini sangat berisiko dilakukan pada cairan infus yang
mengandung nutrisi seperti karbohidrat dan asam amino karena bisa jadi nutrisi tersebut
pecah dan pecahannya menjadi racun. Misalnya saja larutan glukosa konsentrasi
tinggi. Pada pemanasan tinggi, cairan ini akan menghasilkan produk dekomposisi
yang dinamakan 5-HMF atau 5-Hidroksimetil furfural yang pada kadar tertentu
berpotensi menimbulkan gangguan hati. Selain suhu sterilisasi yang terlalu
tinggi, lama penyimpanan juga berbanding lurus dengan peningkatan kadar 5-HMF
ini.
b. Non-overkill
:
Sesuai
dengan perkembangan kedokteran yang membutuhkan jenis cairan yang lebih beragam
contohnya cairan infus yang mengandung nutrisi seperti karbohidrat dan asam
amino serta obat-obatan yang berasal dari bioteknologi, maka berkembang juga
teknologi sterilisasi yang lebih mutakhir yaitu metoda Non-Overkill atau
disebut juga Bioburden, dimana pemanasan akhir yang digunakan tidak lagi harus
mencapai 121 derajat, sehingga produk-produk yang dihasilkan dengan metoda ini
selain dijamin steril, bebas pirogen, bebas partikel namun kandungannya tetap
stabil serta tidak terurai yang diakibatkan pemanasan yang terlampau tinggi.
Dengan demikian infus tetap bermanfaat dan aman untuk diberikan.
III.
PRINSIP KERJA CAIRAN INFUS
Dinding
sel darah merah mempunyai ketebalan ± 10 nm dan pori berdiameter ± 0,8 nm.
Molekul air berukuran ± setengah diameter tersebut, sehingga ion K+ dapat lewat
dengan mudah. Ion K+ yang terdapat dalam sel juga berukuran lebih kecil dari
pada ukuran pori dinding sel itu, tetapi karena dinding sel bermuatan positif
maka ditolak oleh dinding sel. Jadi selain ukuran partikel muatan juga faktor
penentu untuk dapat melalui pori sebuah selaput semipermiabel.
Cairan
sel darah merah mempunyai tekanan osmotik yang sama dengan larutan NaCl 0,92%.
Dengan kata lain cairan sel darah merah isotonik dengan NaCl 0,92%. Jika sel
darah merah dimasukkan kedalam larutan NaCl 0,92%, air yang masuk keluar
dinding sel akan setimbang (kesetimbangan dinamis). Akan tetapi jika sel darah
merah dimasukkan kedalam larutan Nacl yang lebih pekat dari 0,92% air akan
keluar dari dalam sel dan sel akan mengerut. Larutan yang demikian dikatakan
hipertonik. Sebaliknya jika sel darah merah dimasukkan kedalam larutan NaCl
yang lebih encer dari 0,92%, air akan masuk kedalam sel dan sel akan
menggembung dan pecah(plasmolisis). Larutan ini dikatakan sebagai hipotonik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar