Minggu, 25 November 2012

Anda pernah ke Pangkep dan sejenak duduk di pinggir sungainya diantara dua jembatan di tengah kota Pangkajene ? Kalau belum, sesekali singgahlah dan nikmati aneka kuliner sepanjang sungai Pangkajene di sepanjang malam disana. Fransiska Angraini, seorang konsultan pariwisata dan editor majalah “Scuba Diving” malahan menyebut sungai ini, dengan sedikit polesan akan bisa semenarik Clarke Quay, Singapore.  Jauh sebelum kedatangan Fransiska Angraini memotret eksotisme Sungai Pangkajene di malam hari, Budayawan H Djamaluddin Hatibu (mantan anggota DPRD Pangkep) sudah menulis tentang pentingnya Sungai Pangkajene dikembangkan  sebagai obyek wisata sungai.

Saya pribadi, tak menginginkan Sungai Pangkajene dipoles layaknya Clarke Quay karena polesan yang dimaksud  akan menjadi tempat romantis yang sangat liar karena dipenuhi dengan tempat dugem, bar dan restoran di kedua sisi sungai. Tentunya hal tersebut akan memakan biaya yang sangat besar, dan yang lebih penting adalah kenyataan bahwa konsep tata wisata sungai seperti itu tak cocok bagi kehidupan sosial, budaya dan pengembangan ekonomi rakyat yang mengambil manfaat dari akses sungai, termasuk masyarakat Pangkep dari pulau – pulau terdekat.  Clarke Quay sendiri merupakan daerah festival di tepi sungai Singapore yang menggabungkan kenyaman wisata kuliner, belanja dan hiburan. Di bidang 23.000 meter persegi, juga terdapat lima blok perumahan dan pertokoan dengan arsitektur bangunan bergaya Abad ke-19.
Eksistensi Sungai Pangkajene (dahulu bernama “Sungai Marana”) tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah dua  kerajaan penting yang pernah jaya dan berkembang di sepanjang pesisir pantai barat jazirah Sulawesi Selatan, yaitu Siang dan Barasa sebelum posisi stategis pelabuhannya diambil alih oleh Pelabuhan Sombaopu di sebelah selatannya di akhir Abad 16. Di masa pemerintahan Hindia Belanda, akses sungai Pangkajene telah mempersaudarakan Masyarakat Pangkajene daratan dengan orang – orang pulau terdekat. Dalam konteks ini, terkenal ucapan “Anjorengpaki sigappa ri Pangkana Je’neka” (Artinya : nanti kita bertemu di percabangkan sungai) sebagai penamaan dari bentuk hulu sungai yang bercabang (makassar : appangka’) sekaligus menjadi penanda penamaan daerah di  sekitar sungai : Pangkajene.
Kejatuhan Kerajaan Barasa kemudian memunculkan satu pemerintahan kekaraengan di masa Hindia Belanda yang dinamai “Regentschappen Onderafdeeling Pangkajene”. Kharisma Karaeng Pangkajene dan Bupati di masa awal terbentuknya Kabupaten Pangkep dalam perjalanan kekuasaannya telah mewarnai pula pembentukan toko – toko awal yang menutupi pinggir sungai yang telah dirubuhkan dan sekarang lebih terbuka. Sungai Pangkajene kini lebih siap “dijual” kecantikannya untuk kepentingan pariwisata seiring penataannya yang semakin membaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar